BERDAKWAH SECARA TERANG-TERANGAN
(DAKWAH JAHRIYYAH)
Beragam Penindasan
Kaum Musyrikun menjalankan metode-metode
terdahulu sedikit-demi sedikit untuk mengekang perkembangan dakwah Islamiyyah
setelah kemunculannya pada permulaan tahun IV kenabian. Mereka baru sebatas
melakukan metode-metode tersebut selama beberapa minggu dan bulan, tidak
bergeser ke metode yang baru. Akan tetapi, manakala mereka melihat bahwa
metode-metode tersebut tidak membuahkan hasil sama sekali dalam upaya
menggagalkan dakwah Islamiyyah; mereka mengadakan pertemuan sekali lagi untuk
memusyawarahkan hal tersebut antar sesama mereka. Akhirnya, mereka memutuskan
untuk melakukan penyiksaan terhadap kaum Muslimin dan menguji dien mereka.
Tindakan yang diambil pertama kali adalah bergeraknya masing-masing kepala suku
untuk menginterogasi siapa saja yang masuk Islam dari kabilah mereka, kemudian
ditindaklanjuti oleh bawahan dan kroco-kroco mereka. Maka mulailah mereka
mendera kaum Muslimin dengan berbagai siksaan yang membuat bulu kuduk merinding
dan hati tersayat-sayat mendengarnya:
Adalah Abu Jahal, bila mendengar
seorang laki-laki masuk Islam, berketurunan bangsawan serta memiliki
perlindungan (suaka), maka dia mencaci, menghina serta mengancamnya dengan
mengatakan bahwa dia akan membuatnya mengalami kerugian materil dan psikologis.
Sedangkan bila orang tersebut lemah maka dia menggebuk dan
menghasutnya.
'Utsman bin 'Affan digulung oleh pamannya ke dalam tikar
yang terbuat dari daun-daun kurma, kemudian diasapi dari
bawahnya.
Mush'ab bin 'Umair, manakala ibundanya mengetahui keislamannya,
membiarkan dirinya kelaparan dan mengusirnya dari rumah padahal sebelumnya dia
termasuk orang yang hidup berkecukupan. Lantaran tindakan ibundanya tersebut,
kulitnya menjadi bersisik layaknya kulit ular.
Shuhaib bin Sinan ar-Rumy
disiksa hingga kehilangan ingatan dan tidak memahami apa yang dibicarakannya
sendiri.
Bilal, maula Umayyah bin Khalaf al-Jumahi mengalami perlakuan
yang sangat kejam dari majikannya. Pundaknya diikat dengan tali lantas tali
tersebut diserahkan kepada anak-anak kecil untuk diseret dan dibawa keliling
sepanjang pegunungan Mekkah. Akibatnya, bekas tali tersebut masih nampak di
pundaknya. Umayyah, sang majikan selalu mengikatnya kemudian menderanya dengan
tongkat. Kadang ia dipaksa duduk di bawah teriknya sengatan matahari. Ia juga
pernah dipaksa lapar. Puncak dari itu semua adalah saat dia dibawa keluar pada
hari yang suhunya sangat panas, kemudian dibuang ke Bathha' (tanah lapang
berkerikil) Mekkah. Setelah itu, ia ditindih dengan batu besar dan ditaruh ke
atas dadanya. Ketika itu, berkata Umayyah kepadanya:"Tidak, demi Allah! engkau
akan tetap mengalami seperti ini sampai engkau mati atau engkau kafir terhadap
(ajaran) Muhammad dan menyembah al-Laata dan al-'Uzza". Meskipun dalam kondisi
demikian, ia tetap berteriak: "Ahad, Ahad". Mereka terus menyiksanya hingga
suatu hari Abu Bakar melewatinya, lalu membelinya dan menukarkannya dengan
seorang anak berkulit hitam. Ada riwayat yang mengatakan: dengan tujuh uqiyyah
(satu uqiyyah= 12 dirham atau 28 gram-red) atau lima uqiyyah dari perak,
kemudian beliau memerdekakannya.
'Ammar bin Yasir maula Bani Makhzum
sekeluarga radhiallaahu 'anhum ; dia, ayahnya dan ibunya yang masuk Islam tak
luput dari penganiayaan. mereka diseret keluar menuju al-Abthah (suatu tempat di
Mekkah) oleh kaum Musyrikin yang dipimpin oleh Abu Jahal. Saat itu suhu udara
sangat panas dan menyengat. Maka dalam kondisi seperti itulah mereka menyiksa
keluarga tersebut. Ketika mereka sedang menjalani siksaan, Nabi Shallallâhu
'alaihi wasallam melintas di hadapan mereka sembari bersabda: "Bersabarlah wahai
Ali Yasir (keluarga besar Yasir)! Sesungguhnya tempat yang dijanjikan untuk
kalian adalah surga". Yasir, ayahnya meninggal dunia dalam siksaan tersebut
sedangkan ibunya, Sumayyah ditusuk oleh Abu Jahal dari arah qubulnya dengan
tombak dan meninggal dunia seketika. Dialah syahidah (wanita yang mati syahid)
pertama dalam Islam. Setelah itu, kaum Musyrikin tersebut meningkatkan frekuensi
siksaan mereka terhadap 'Ammar; terkadang dengan menjemurnya saja, terkadang
dengan meletakkan batu besar yang memerah (saking panasnya) diatas dadanya dan
terkadang dengan menenggelamkannya alias membenamkan mukanya ke dalam air. Kala
itu, mereka berkata kepadanya: "kami tidak akan terus menyiksamu hingga engkau
mencaci Muhammad atau mengatakan sesuatu yang baik terhadap al-Laata dan
al-'Uzza. Maka, dia pun secara terpaksa menyetujui hal itu. Setelah itu dia
mendatangi Nabi sambil menangis dan meminta ma'af atas kejadian tersebut kepada
beliau Shallallâhu 'alaihi wasallam. Ketika itu, turunlah ayat: "Barangsiapa
yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan dari Allah),
kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia
tidak berdosa)…". (Q.S. 16/an-Nahl: 106).
Abu Fakihah – namanya Aflah –
seorang maula Bani 'Abdi ad-Daar mukanya dijerembabkan oleh kaum Musyrikin ke
tanah yang melepuh oleh terik matahari, kemudian diletakkan diatas punggungnya
sebuah batu besar hingga dia tak dapat bergerak lagi. Dia dibiarkan dalam
keadaan demikian hingga hilang ingatan. Suatu kali, mereka mengikat kakinya
dengan tali, lalu menyeretnya dan melemparkannya ke tanah yang melepuh oleh
terik matahari seperti yang dilakukan terhadapnya sebelumnya, kemudian
mencekiknya hingga mereka mengira dia telah mati. Saat itu, Abu Bakar
melewatinya lalu membeli dan memerdekakannya karena Allah Ta'ala.
Khabbab
bin al-Aratt, maula Ummi Anmaar binti Siba' al-Khuza'iyyah disiksa oleh kaum
Musyrikin dengan aneka siksaan; rambutnya mereka jambak dengan keras sekali,
lehernya mereka betot dengan kasar lalu melemparkannya ke dalam api yang membara
kemudian –dalam kondisi demikian- jasadnya mereka tarik sehingga api itu
terpadamkan oleh lemak yang meleleh dari punggungnya.
Dari kalangan
budak Muslimah, terdapat riwayat Zunairah, an-Nahdiyyah dan Ummu 'Ubais. Tatkala
mereka masuk Islam, kaum Musyrikinpun melakukan penyiksaan terhadap mereka sama
seperti yang telah dilakukan terhadap para shahabat sebelumnya
diatas.
Seorang budak perempuan Bani Muammal – mereka adalah dari suku
Bani 'Adiy – dipukul oleh 'Umar bin al-Khaththab, kala ia masih Musyrik, dan
manakala merasa jenuh, dia berkata: "sesungguhnya yang membuatku membiarkanmu
hanyalah karena kejenuhan".
Semua budak-budak wanita tersebut dibeli
oleh Abu Bakar kemudian dimerdekakannya sebagaimana yang telah dilakukannya
terhadap Bilal dan 'Amir bin Fuhairah.
Kaum Musyrikin juga pernah
membungkus sebagian shahabat dalam buntalan yang terbuat dari kulit onta dan
sapi, kemudian dilempar ke bumi yang sudah melepuh oleh terik matahari.
Sedangkan sebagian yang lain, pernah mereka kenakan baju besi lantas dilemparkan
ke atas batu besar yang memanas.
Deretan para korban yang disiksa karena
membela dienullah demikian panjang dan amat histeris. Pokoknya, siapa saja yang
mereka ketahui telah memeluk Islam maka tak ayal akan dihadang geraknya dan
disakiti.
Sikap Kaum
Musyrikin terhadap Rasulullah Shallallâhu 'alaihi
wasallam
Adapun Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam (kala
itu) tidaklah mengalami siksaan yang sedemikian. Beliau adalah seorang ksatria,
terhormat dan sosok yang langka. Baik kawan maupun lawan sama-sama segan dan
mengagungkannya; setiap orang yang berjumpa dengannya, pasti akan menyambutnya
dengan rasa hormat dan pengagungan. Tidak seorangpun yang berani melakukan
perbuatan tak senonoh dan hinadina terhadap beliau selain manusia-manusia kerdil
dan picik. Disamping itu, beliau juga mendapatkan perlindungan (suaka) dari
pamannya, Abu Thalib yang merupakan tokoh terpandang di Mekkah. Dia memang
terpandang nasabnya dan disegani orang. Oleh karena itu, amatlah sulit bagi
seseorang untuk melecehkan orang yang sudah berada dalam perlindungannya.
Kondisi ini tentu amat mencemaskan kaum Quraisy dan membuat mereka terjepit
sehingga tidak dapat berbuat banyak. Hal ini, memaksa mereka untuk memikirkan
secara jernih jalan keluarnya tanpa harus berurusan dengan wilayah larangan yang
bila tersentuh tentu akibatnya tidak diharapkan. Akhirnya, mereka mendapatkan
ide penyelesaiannya, yaitu dengan memilih jalan berunding dengan sang penanggung
jawab terbesar; Abu Thalib. Akan tetapi tentunya dengan lebih banyak melakukan
pendekatan secara hikmah dan ekstra serius, disisipi dengan trik menantang dan
ultimatum terselubung sampai dia mau tunduk dan mendengarkan apa yang mereka
katakan.
Utusan Quraisy
menghadap Abu Thalib
Ibnu Ishaq berkata: "sekelompok tokoh
bangsawan kaum Quraisy menghadap Abu Thalib, lalu berkata kepadanya: 'wahai Abu
Thalib! Sesungguhnya keponakanmu telah mencaci tuhan-tuhan kita, mencela agama
kita, membuyarkan impian kita dan menganggap sesat nenek-nenek moyang kita.
Karenanya, engkau hanya punya dua alternatif: mencegahnya atau membiarkan kami
dan dia menyelesaikan urusan ini. Sesungguhnya kondisimu adalah sama seperti
kami, tidak sependapat dengannya, oleh karena itu kami berharap dapat
mengandalkanmu dalam menjinakkannya'. Abu Thalib berkata kepada mereka dengan
tutur kata yang lembut dan membalasnya dengan cara yang halus dan baik. Setelah
itu mereka pun akhirnya undur diri. Sementara itu, Rasulullah tetap melakukan
aktivitas seperti biasanya; mengkampanyekan dienullah dan mengajak kepadanya".
Akan tetapi, orang-orang Quraisy tidak dapat berlama-lama sabar manakala melihat
beliau Shallallâhu 'alaihi wasallam terus melakukan aktivitasnya tersebut dan
berdakwah kepada Allah bahkan hal itu semakin membuat mereka mempersoalkannya
dan mengumpatinya. Lantaran itu pula, mereka kemudian memutuskan untuk menghadap
Abu Thalib sekali lagi namun dengan cara yang lebih kasar dan keras daripada
sebelumnya.
Kaum Quraisy
mengultimatum Abu Thalib
Para tokoh kaum Quraisy kembali
mendatangi Abu Thalib seraya berkata kepadanya: "wahai Abu Thalib! Sesungguhnya
kami menghargai usia, kebangsawanan dan kedudukanmu. Dan sesungguhnya pula, kami
telah memintamu menghentikan gelagat keponakanmu itu, namun engkau tidak
melakukannya. Sesungguhnya kami, demi Allah! tidak akan mampu bersabar atas
perbuatan mencela nenek moyang kami, membuyarkan impian kami dan mencemooh
tuhan-tuhan kami hingga engkau mencegahnya sendiri atau kami yang akan membuat
perhitungan dengannya dan denganmu sekaligus. Setelah itu, kita lihat siapa
diantara dua kelompok ini yang akan binasa".
Ancaman dan ultimatum yang
keras tersebut sempat membuat nyali Abu Thalib bergetar juga, karenanya dia
menyongsong Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam sembari berkata kepadanya:
"wahai keponakanku! Sesungguhnya kaummu telah mendatangiku dan mengatakan begini
dan begitu kepadaku. Oleh karena itu berdiamlah demi kemaslahatanku dan dirimu
sendiri. Janganlah engkau membebaniku dengan sesuatu yang tak mampu aku
lakukan!". Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam mengira bahwa dengan ini
pamannya telah mengucilkannya dan tak mampu lagi melindungi dirinya, maka
beliaupun menjawab: "wahai pamanku! Demi Allah! andaikata mereka letakkan
matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan
agama ini -hingga Allah memenangkannya atau aku binasa karenanya- niscaya aku
tidak akan meninggalkannya". Beliau mengungkapkannya dengan berlinang air mata
dan tersedu, lalu berdiri untuk berpaling namun ketika itu, pamannya
memanggilnya dan menghampirinya sembari berkata: "Pergilah wahai keponakanku!
Katakanlah apa yang engkau suka, demi Allah! aku tidak akan pernah selamanya
menyerahkanmu kepada siapapun!". Lalu dia merangkai beberapa untai bait
(artinya):
Demi Allah! mereka semua tidak akan dapat
menjamahmu
Hingga aku terkubur berbantalkan tanah
Berterang-teranganlah
dengan urusanmu, tiada cela bagimu
Bergembira dan bersuka citalah dengan hal
itu
Kaum Quraisy kembali
menghadap Abu Thalib
Tatkala kaum Quraisy melihat Rasulullah
masih terus melakukan aktivitasnya, tahulah mereka bahwa Abu Thalib tak
berkeinginan untuk mengucilkan Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam dan telah
bulat hatinya untuk memisahkan diri dan memusuhi mereka. Maka sebagai upaya
membujuk, mereka membawa 'Imarah bin al-Walid bin al-Mughirah ke hadapannya
seraya berujar:"wahai Abu Thalib! Sesungguhnya ini ada seorang pemuda yang
paling rupawan dan tampan di kalangan kaum Quraisy! Ambillah dia, maka dengan
begitu, engkau dapat berbuat sesukamu; mengikatnya atau membebaskannya
(membelanya). Jadikanlah dia sebagai anakmu, maka dia jadi milikmu. Lalu
serahkan kepada kami keponakanmu yang telah menyelisihi agamamu dan agama
nenek-nenek moyangmu itu, menceraiberaikan persatuan kaummu, membuyarkan impian
mereka untuk kami bunuh. Ini adalah barter diantara kita dan menjadi impas;
seorang dengan seorang". Abu Thalib menjawab: "Demi Allah! sungguh tawaran
kalian tersebut sesuatu yang murahan! Apakah kalian ingin memberikan kepadaku
anak kalian ini agar aku beri makan untuk kepentingan kalian sementara aku
memberikan anakku agar kalian bunuh?. Demi Allah! ini tidak akan pernah
terjadi!". Al-Muth'im bin 'Adiy bin Naufal bin 'Abdu Manaf berkata:"Demi Allah,
wahai Abu Thalib! Kaummu telah berbuat adil terhadapmu dan berupaya untuk
membebaskanmu dari hal yang tidak engkau sukai. Jadi, apa sebabnya aku lihat
engkau tidak mau menerima sesuatupun dari tawaran mereka?". Dia menjawab: "Demi
Allah! kalian bukannya berbuat adil terhadapku, akan tetapi kalian telah
bersepakat menghinakanku dan mengkonfrontasikanku dengan kaum Quraisy. Oleh
sebab itu, lakukanlah apa yang ingin kalian lakukan!".
Ketika kaum
Quraisy gagal dalam perundingan tersebut dan tidak berhasil membujuk Abu Thalib
untuk mencegah Rasululullah Shallallâhu 'alaihi wasallam dan mengekang laju
dakwahnya kepada Allah; maka mereka pun memutuskan untuk memilih langkah yang
sebelumnya telah berupaya mereka hindari dan tidak menyerempetnya karena
khawatir akan akibat serta implikasinya, yaitu langkah memusuhi pribadi
Rasululullah Shallallâhu 'alaihi wasallam.
Bentuk-Bentuk Pelecehan mereka terhadap Rasulullah
Shallallâhu 'alaihi wasallam
Kaum Quraisy membatalkan sikap
pengagungan dan penghormatan yang dulu pernah mereka tampakkan terhadap
Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam semenjak munculnya dakwah Islamiyyah di
lapangan. Memang, sungguh sulit merubah sikap yang terbiasa dengan kebengisan
dan kesombongan untuk berlama-lama sabar, maka dari itu, mereka mulai
mengulurkan tangan permusuhan terhadap Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam.
Sebagai implementasinya, mereka melakukan berbagai bentuk ejekan, hinaan,
pencemaran nama baik, pengaburan, keusilan dan lain sebagainya. Tentunya, sudah
lumrah bila yang pertama-tama menjadi ujung tombaknya adalah Abu Lahab sebab dia
adalah seorang kepala suku Bani Hasyim. Dia tidak pernah memikirkan pertimbangan
apapun sebagaimana yang selalu dipertimbangkan oleh tokoh-tokoh Quraisy lainnya.
Dia adalah musuh bebuyutan Islam dan para pemeluknya. Sejak pertama, dia sudah
menghadang Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam sebelum kaum Quraisy
berkeinginan melakukan hal itu. Kita telah membahas bagaimana prilaku mereka
terhadap Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam di majlis Bani Hasyim dan di bukit
Shafa. Sebelum beliau Shallallâhu 'alaihi wasallam diutus, Abu Lahab telah
mengawinkan kedua anaknya; 'Utbah dan 'Utaibah dengan kedua putri Rasulullah
Shallallâhu 'alaihi wasallam; Ruqayyah dan Ummu Kultsum. Namun tatkala beliau
diutus menjadi Rasul, dia memerintahkan kedua anaknya tersebut agar menceraikan
kedua putri beliau Shallallâhu 'alaihi wasallam dengan cara yang kasar dan
keras, hingga akhirnya terjadilah perceraian itu.
Ketika 'Abdullah, putra
kedua Rasulullah wafat, Abu Lahab amat gembira dan menyampiri semua kaum
Musyrikin untuk memberitakan perihal Muhammad yang sudah menjadi Abtar (orang
yang terputus/buntung) *.
*Terhadapnya Allah Ta'ala menurunkan ayat 3,
surat al-Kautsar –red.
Sebagaimana dalam bahasan terdahulu, bahwa Abu
Lahab selalu menguntit di belakang Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam saat
musim haji dan di pasar-pasar sebagai upaya mendustakannya. Dalam hal ini,
Thariq bin 'Abdullah al-Muhariby meriwayatkan suatu berita yang intinya bahwa
yang dilakukannya tidak sekedar mendustakan Rasulullah, akan tetapi lebih dari
itu, dia juga memukul beliau Shallallâhu 'alaihi wasallam dengan batu hingga
kedua tumit beliau berdarah.
Isteri Abu Lahab, Ummu Jamil binti Harb bin
Umayyah saudara perempuan Abu Sufyan, tidak kalah frekuensi permusuhannya
terhadap Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam dibanding sang suami. Dia pernah
membawa dedurian dan menebarkannya di jalan yang dilalui oleh Nabi Shallallâhu
'alaihi wasallam bahkan juga, di depan pintu rumah beliau pada malam harinya.
Dia adalah sosok perempuan yang judes. Lisannya selalu dijulurkan untuk mencaci
beliau, mengarang berita dusta dan berbagai isu, menyulutkan api fitnah serta
mengobarkan perang membabibuta terhadap Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam. Oleh
karena itulah, al-Qur'an menyifatinya dengan Hammaalatal Hathab (wanita pembawa
kayu bakar).
Ketika dia mendengar ayat al-Qur'an yang turun mengenainya
dan suaminya, dia langsung mendatangi Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam
yang sedang duduk-duduk bersama Abu Bakar ash-Shiddiq. Dia telah membawa
segenggam batu ditangannya, namun ketika dia berdiri di hadapan keduanya, Allah
membutakan pandangannya dari beliau sehingga dia tidak melihat selain Abu Bakar,
lantas dia berkata: "wahai Abu Bakar! Mana shahabatmu itu? Aku mendapat berita
bahwa dia telah mengejekku. Demi Allah! andai aku menemuinya niscaya akan aku
tampar mulutnya dengan segenggam batu ini. Demi Allah! Bukankah sesungguhnya aku
ini seorang Penyair?. Kemudian dia menguntai bait berikut (artinya):
Si
tercela yang kami tentang, Urusannya yang kami tolak, Diennya yang kami
benci
Kemudian dia berlalu. Setelah kepergiannya, Abu Bakar lantas
berkata: "wahai Rasulullah! Adakah engkau melihatnya dapat melihatmu?". Beliau
menjawab: "Dia tidak dapat melihatku. Sungguh! Allah telah membutakan
pandangannya dariku".
Abu Bakar al-Bazzar meriwayatkan kisah diatas. Di
dalamnya disebutkan bahwa ketika dia berdiri di hadapan Abu Bakar, dia berkata:
"wahai Abu Bakar! Shahabatmu itu telah mengejek kami". Abu Bakar menjawab:
"Tidak, demi Rabb bangunan ini (Ka'bah)! Dia tidak pernah berbicara dengan
memakai sya'ir ataupun melantunkannya". Dia menjawab: "Sungguh! apa yang engkau
ucapkan memang benar".
Demikianlah yang dilakukan oleh Abu Lahab padahal
beliau adalah paman beliau Shallallâhu 'alaihi wasallam sekaligus tetangganya,
rumahnya menempel dengan rumah beliau. Sama seperti tetangga-tetangga beliau
yang lain yang selalu mengganggu beliau padahal beliau tengah berada di dalam
rumah.
Ibnu Ishaq berkata: "Mereka yang selalu mengganggu Rasulullah
Shallallâhu 'alaihi wasallam saat beliau berada di rumah tersebut adalah Abu
Lahab, al-Hakam bin Abi al-'Ash bin Umayyah, 'Uqbah bin Abi Mu'ith, 'Adiy bin
Hamra' ats-Tsaqafy dan Ibnu al-Ashda' al-Hazaly. Semuanya adalah
tetangga-tetangga beliau namun tak seorangpun diantara mereka yang masuk Islam
kecuali al-Hakam bin Abi al-'Ash. Salah seorang diantara mereka ada yang
melempari beliau dengan rahim kambing saat beliau tengah melakukan shalat. Yang
lain lagi, bila priuk milik beliau -yang terbuat dari batu- tengah dipanaskan,
pernah memasukkan bangkai tersebut ke dalamnya. Hal ini, membuat Rasulullah
Shallallâhu 'alaihi wasallam mamasang tabir agar dapat terlindungi dari mereka
manakala beliau tengah melakukan shalat. Bila usai mereka melakukan hal itu,
Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam membawanya keluar dan meletakkannya
diatas sebatang ranting, kemudian berdiri di depan pintu rumahnya lalu berseru:
"wahai Bani 'Abdi Manaf! Tetangga-tetangga model apa yang begini kelakuannya?".
Kemudian barang tersebut beliau lempar ke jalan.
'Uqbah bin Abi Mu'ith
malah melakukan hal yang lebih buruk dan busuk dari itu lagi. Imam Bukhari
meriwayatkan dari 'Abdullah bin Mas'ud radhiallaahu 'anhu bahwa pernah suatu
hari Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam melakukan shalat di sisi Baitullah
sedangkan Abu Jahal dan rekan-rekannya tengah duduk-duduk. Lalu sebagian mereka
berkata kepada sebagian yang lain: "Siapa diantara kalian yang akan membawa
kotoran onta Bani Fulan lalu menumpahkannya ke punggung Muhammad saat dia sedang
sujud?". Maka bangkitlah 'Uqbah bin Abi Mu'ith, sosok yang paling sangar
diantara mereka, membawa kotoran tersebut sembari memperhatikan gerak-gerik Nabi
Muhammad Shallallâhu 'alaihi wasallam. Tatkala beliau Shallallâhu 'alaihi
wasallam beranjak sujud kepada Allah, dia menumpahkan kotoran tersebut ke arah
punggungnya diantara dua bahunya. Aku (Ibnu Mas'ud-red) memandangi hal itu dan
ingin sekali melakukan sesuatu andai aku memiliki perlindungan (suaka). Lalu
mereka tertawa sambil masing-masing saling mencolek dan memiringkan badan satu
sama lainnya dengan penuh kesombongan dan keangkuhan sedangkan Rasulullah masih
sujud. Beliau tidak dapat mengangkat kepalanya hingga Fathimah datang dan
membuang kotoran tersebut dari punggung beliau, barulah beliau mengangkat
kepala, kemudian berdoa: 'Ya Allah! berilah balasan (setimpal) kepada kaum
Quraisy tersebut'. Beliau mengucapkannya tiga kali. Doa beliau ini menyesakkan
hati mereka. Dia (Ibnu Mas'ud-red) bertutur lagi: 'mereka menganggap bahwa
berdoa di negeri itu (Mekkah) adalah mustajabah. Kemudian dalam doanya tersebut,
beliau Shallallâhu 'alaihi wasallam menyebutkan nama mereka satu per-satu: ' Ya
Allah! binasakanlah Abu Jahal, 'Utbah bin Rabi'ah, Syaibah bin Rabi'ah, al-Walid
bin 'Utbah, Umayyah bin Khalaf, 'Uqbah bin Abi Mu'ith – Ibnu Mas'ud menyebutkan
yang ke tujuh namun tidak mengingat namanya - . Demi Dzat yang jiwaku di
tanganNya! Sungguh aku telah melihat orang-orang yang disebutkan oleh Rasulullah
Shallallâhu 'alaihi wasallam tewas mengenaskan di al-Qalib , yaitu kuburan di
Badar, Madinah". Adapun nama orang yang ke tujuh tersebut adalah 'Imarah bin
al-Walid.
Lain lagi yang dilakukan oleh Ummayyah bin Khalaf; bila melihat
Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam, dia langsung mengumpat dan mencelanya.
Karenanya, turunlah terhadapnya ayat:"Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat
(al-Humazah) lagi pencela". (Q.S. 104/al-Humazah: 1). Ibnu Hisyam berkata:"kata
al-Humazah maknanya adalah orang yang mencemooh seseorang secara terang-terangan
dan tanpa tedeng aling-aling, memain-mainkan kedua matanya sambil
mengerdipkannya, sedangkan kata al-Lumazah maknanya adalah orang yang mencela
manusia secara sembunyi dan menyakiti hati mereka".
Sama halnya dengan
saudara laki-lakinya, Ubay bin Khalaf; mereka berdua seiring dan sejalan. Suatu
ketika, 'Uqbah duduk di majlis Nabi sembari mendengarkan dakwahnya, namun
manakala berita tersebut sampai ke telinga Ubay; dia langsung mencaci dan
mencemooh saudaranya tersebut serta memintanya agar meludah ke wajah Rasulullah
Shallallâhu 'alaihi wasallam , maka diapun melakukannya. Sementara Ubay sendiri
juga tidak mau kalah, dia menumbuk tulang belulang yang ada hingga remuk redam
lalu meniupkannya ke angin yang berhembus ke arah Rasulullah Shallallâhu 'alaihi
wasallam.
Bentuk pelecehan lainnya adalah apa yang diperbuat oleh
al-Akhnas bin Syuraiq at-Tsaqafy yang selalu mengerjai Rasulullah Shallallâhu
'alaihi wasallam. Untuk itu, al-Qur'an menyifatinya dengan sembilan sifat yang
menyingkap perangainya, yaitu firman Allah Ta'ala: " Dan janganlah kamu ikuti
setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina (10). Yang banyak mencela, yang
kian ke mari menghambur fitnah (11). Yang enggan berbuat baik, yang melampaui
batas lagi banyak dosa (12). Yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal
kejahatannya (13)". (Q.S. 68/al-Qalam: 10-13).
Demikian pula dengan Abu
Jahal, terkadang dia datang kepada Rasulullah dan mendengarkan al-Qur'an,
kemudian berlalu namun hal itu tidak membuatnya beriman, tunduk, sopan apalagi
takut. Bahkan dia menyakiti Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam dengan
perkataannya, menghadang jalan Allah, berlalu lalang dengan angkuh
memproklamirkan apa yang diperbuatnya dan bangga dengan kejahatan yang
dilakukannya tersebut seakan sesuatu yang enteng saja. Terhadapnya turunlah
ayat: "Dan ia tidak mau membenarkan (Rasul dan al-Qur'an) dan tidak mau
mengerjakan shalat… dst". (QS. 75/al-Qiyaamah: 31- dst). Dia selalu mencegah
Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam untuk melakukan shalat sejak pertama
kali melihat beliau melakukannya di Masjid al-Haram. Suatu kali, dia melewati
beliau yang sedang melakukan shalat di sisi Maqam (nabi Ibrahim
'alaihissalaam-red), lalu berkata: "wahai Muhammad! Bukankah sudah aku larang
engkau melakukan ini?". Dia mengancam beliau, mengasari serta membentaknya. Dia
berkata kepada beliau:"wahai Muhammad! Dengan apa engkau akan mengancamku?Demi
Allah! bukankah sesungguhnya aku adalah orang yang paling banyak memanggil
(berdoa) di lembah ini (Mekkah)". Maka turunlah ayat: "Maka biarkanlah dia
memanggil golongannya (untuk menolongnya),[17]. kelak Kami akan memanggil
malaikat Zabaniyah,[18] ". (Q.S.96/al-'Alaq: 17-18).
Dalam suatu riwayat
dinyatakan bahwa Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam mencengkeram lehernya dan
menggoyang-goyangkannya sembari membacakan firman Allah: "Kecelakaanlah bagimu
(hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu,[34]. kemudian kecelakaanlah bagimu
(hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu.[35]". (Q.S. 75/al-Qiyaamah: 34-35).
Lantas musuh Allah itu berkata: "Engkau hendak mengancamku, wahai Muhammad? Demi
Allah! engkau dan TuhanMu tidak akan sanggup melakukan apapun. Sesungguhnya
aku-lah seperkasa orang yang berjalan diantara dua gunung di Mekkah
ini!".
Sekalipun sudah membentak-bentak tersebut, Abu Jahal tidak pernah
kapok dari kedunguannya bahkan semakin blingsatan saja. Berkaitan dengan ini,
Imam Muslim mengeluarkan dari Abu Hurairah, dia berkata: "Abu Jahal
berkata:'Apakah Muhammad sujud dan menempelkan jidatnya di tanah (shalat) di
depan batang hidung kalian?". Salah seorang menjawab: "ya, benar!". Dia berkata
lagi:"demi al-Laata dan al-'Uzza! Sungguh aku akan menginjak-injak lehernya dan
membenamkan mukanya ke tanah!". Tak berapa lama, datanglah Rasulullah lalu
melakukan shalat. Abu Jahal sebelumnya mendakwa akan menginjak-injak lehernya,
namun sebaliknya, yang terjadi sungguh mengagetkan mereka; dia tidak jadi
bergerak maju dan malah menutupi kedua tangannya untuk berlindung. Mereka lalu
bertanya: "wahai Abu Jahal! Ada apa gerangan denganmu?". Dia menjawab:
"Sesungguhnya ada parit dari api, sesuatu yang menakutkan dan sayap-sayap yang
mengantarai aku dan dia". Kemudian Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam
berkata: "andai dia sedikit lagi mendekat kepadaku, niscaya tubuhnya akan
disambar malaikat dan terkoyak satu per-satu".
Demikianlah gambaran yang
amat mini sehubungan dengan bentuk-bentuk pelecehan dan penganiayaan yang
dialami oleh Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam dan kaum Muslimin dari para
Thaghut kaum Musyrikin yang mendakwa bahwa mereka adalah Ahlullah (Kekasih
Allah) dan penduduk tanah haramNya.
Aktivitas di Darul Arqam
Diantara
hikmah kenapa Rasulullah dalam menghadapi penindasan-penindasan tersebut,
melarang kaum Muslimin memproklamirkan keislaman mereka baik dalam bentuk
perkataan maupun perbuatan serta tidak mengizinkan mereka bertemu dengan beliau
kecuali secara rahasia adalah karena bila mereka bertemu dengan beliau secara
terbuka maka tidak diragukan lagi kaum Musyrikin akan membatasi gerak beliau
sehingga keinginan beliau untuk mentazkiyah (menyucikan diri) kaum Muslimin dan
mengajarkan mereka al-Kitab dan as-Sunnah akan terhalangi. Dan barangkali, bisa
menyebabkan berbenturnya antara kedua belah pihak bahkan (realitasnya) hal itu
benar-benar terjadi pada tahun ke empat dari kenabian, yaitu manakala
shahabat-shahabat Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam berkumpul di
lereng-lereng perbukitan tempat mereka melakukan shalat secara rahasia.
Tiba-tiba, hal itu terlihat oleh beberapa orang kafir Quraisy. mereka ini lalu
mencaci maki dan memerangi mereka. Menghadapi hal itu, Sa'ad bin Abi Waqqash
yang merupakan salah seorang dari para shahabat tersebut memukul seorang dari
kaum Musyrikin tersebut sehingga tertumpahlah darah ketika itu. Inilah, darah
pertama yang tertumpah dalam Islam.
Sebagaimana yang sudah diketahui
bahwa bila perbenturan ini terus terulang dan berkepanjangan maka tentunya akan
berdampak kepada musnah dan binasanya kaum Muslimin. Oleh karena itu, adalah
bijak untuk melakukannya dengan sembunyi-sembunyi. Nyatanya, para shahabat
secara umum menyembunyikan keislaman, peribadatan, dakwah dan pertemuan mereka.
Sedangkan Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam melakukannya secara terbuka
dalam berdakwah dan beribadah di depan mata kaum Musyrikin. Tidak ada sesuatupun
yang dapat menghalang-halanginya. Namun begitu, beliau tetap melakukan pertemuan
dengan kaum Muslimin secara rahasia demi kepentingan mereka dan agama Islam.
Maka adalah Daar (kediaman) al-Arqam bin Abi al-Arqam berada diatas bukit shafa
dan terpencil sehingga luput dari intaian para Thaghut dan bahan pembicaraan
persidangan-persidangan mereka. Tempat itulah yang dijadikan oleh beliau
Shallallâhu 'alaihi wasallam sebagai pusat dakwah dan berkumpulnya kaum
Muslimin. Disana, beliau membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, menyucikan
hati mereka serta mengajarkan mereka al-Kitab dan al-Hikmah (as-Sunnah).
Sirah Nabawiyah menjelaskan kepada kita secara rinci tahapan - tahapan pertumbuhan islam dari mulai muncul nya sampai kepada perkembangan islam yang dibawakan oleh nabi Agung junjungan kita semua Muhammad SAW...allahuma sholiwassalimallah syaidina Muhammad.
SIRAH NABAWIYAH ( 09 B )
Langganan:
Komentar (Atom)
Belajar Rumus Ms. Exel Pak Tara
Assallamualaikum..... Selamat pagi anak- anak pada kesempatan ini mari kita belajar lebih dalam mengenai rumus rumus dalam microsoft exel,u...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar