BERDAKWAH SECARA TERANG-TERANGAN (DAKWAH
JAHRIYYAH)
Perintah
Pertama untuk menampakkan Dakwah
Sehubungan dengan hal ini, ayat pertama
yang turun adalah firmanNya: "dan berilah peringatan kepada keluargamu yang
terdekat" (Q.S.26/asy-Syu'ara' : 214). Terdapat jalur cerita sebelumnya yang
menyinggung kisah Musa 'alaihissalaam dari permulaan kenabiannya hingga
hijrahnya bersama Bani Israil, lolosnya mereka dari kejaran Fir'aun dan kaumnya
serta tenggelamnya fir'aun bersama kaumnya. Kisah ini mengandung beberapa
tahapan yang dilalui oleh Musa 'alaihissalaam dalam dakwahnya terhadap Fir'aun
dan kaumnya agar menyembah Allah.
Seakan-akan rincian ini hanya
dipaparkan seiring dengan perintah kepada Rasulullah Shallallâhu 'alaihi
wasallam agar berdakwah kepada Allah secara terang-terangan sehingga dihadapan
beliau dan para shahabatnya terdapat contoh dan gambaran yang akan dialami oleh
mereka nantinya;yaitu berupa pendustaan dan penindasan manakala mereka melakukan
dakwah tersebut secara terang-terangan. Demikian pula, agar mereka mawas diri
dalam melakukan hal itu dan berdasarkan ilmu semenjak awal memulai dakwah mereka
tersebut.
Disamping itu, surat tersebut (asy-Syu'ara') juga berbicara
mengenai nasib yang akan dialami oleh pendusta-pendusta para Rasul, diantaranya
sebagaimana yang dialami oleh kaum nabi Nuh, kaum 'Ad dan Tsamud, kaum Nabi
Ibrahim, kaum Nabi Luth serta Ashhabul Aykah (selain yang berkaitan dengan
perihal Fir'aun dan kaumnya). Hal itu semua dimaksudkan agar mereka yang
melakukan pendustaan mengetahui bahwa mereka akan mengalami nasib yang sama
seperti nasib kaum-kaum tersebut dan mendapatkan pembalasan dari Allah bila
melakukan hal yang sama. Demikian pula, agar kaum Mukminin tahu bahwa kesudahan
yang baik dari itu semua akan berpihak kepada mereka bukan kepada para pendusta
tersebut.
Berdakwah di
kalangan Kaum Kerabat
Setelah menerima perintah dalam ayat
tersebut, Rasululullah Shallallâhu 'alaihi wasallam mengundang keluarga
terdekatnya, Bani Hasyim. Mereka datang memenuhi undangan itu disertai oleh
beberapa orang dari Bani al-Muththalib bin 'Abdi Manaf. Mereka semua berjumlah
sekitar 45 orang laki-laki. Namun tatkala Rasulullah ingin berbicara, tiba-tiba
Abu Lahab memotongnya sembari berkata: "mereka itu (yang hadir) adalah
paman-pamanmu, anak-anak mereka; bicaralah dan tinggalkanlah masa
kekanak-kanakan! Ketahuilah! Bahwa kaummu tidak memiliki cukup kekuatan untuk
melawan seluruh bangsa Arab. Akulah orang yang berhak membimbingmu. Cukuplah
bagimu suku-suku dari pihak bapakmu. Bagi mereka, jika engkau ngotot melakukan
sebagaimana yang engkau lakukan sekarang, adalah lebih mudah ketimbang bila
seluruh suku Quraisy bersama-sama bangsa Arab bergerak memusuhimu. Aku tidak
pernah melihat seseorang yang datang kepada suku-suku dari pihak bapaknya dengan
membawa suatu yang lebih jelek dari apa yang telah engkau bawa ini". Rasulullah
Shallallâhu 'alaihi wasallam hanya diam dan tidak berbicara pada majlis
itu.
Kemudian beliau Shallallâhu 'alaihi wasallam mengundang mereka
lagi, dan berbicara: "alhamdulillah, aku memujiNya, meminta pertolongan, beriman
serta bertawakkal kepadaNya. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah
semata Yang tiada sekutu bagiNya". Selanjutnya beliau berkata: "sesungguhnya
seorang pemimpin tidak mungkin membohongi keluarganya sendiri. Demi Allah yang
tiada Tuhan selainNya! Sesungguhnya aku adalah Rasulullah yang datang kepada
kalian secara khusus, dan kepada manusia secara umum. Demi Allah! sungguh kalian
akan mati sebagaimana kalian tidur dan kalian akan dibangkitkan sebagaimana
kalian bangun dari tidur. Sungguh kalian akan dihisab (diminta
pertanggungjawabannya) terhadap apa yang kalian lakukan. Sesungguhnya yang ada
hanya surga yang abadi atau neraka yang abadi". Kamudian Abu Thalib berkomentar:
"alangkah senangnya kami membantumu, menerima nasehatmu, dan sangat membenarkan
kata-katamu. Mereka, yang merupakan suku-suku dari pihak bapakmu telah
berkumpul. Sesungguhnya aku hanyalah salah seorang dari mereka namun aku adalah
orang yang paling cepat merespek apa yang engkau inginkan; oleh karena itu
teruskan apa yang telah diperintahkan kepadamu. Demi Allah! aku masih akan
melindungi dan membelamu akan tetapi diriku tidak memberikan cukup keberanian
kepadaku untuk berpisah dengan agama Abdul Muththalib ". Ketika itu, berkata Abu
Lahab: "demi Allah! ini benar-benar merupakan aib besar. Ayo cegahlah dia
sebelum dia berhasil menyeret orang lain selain kalian!. Abu Thalib menjawab:
"demi Allah! sungguh selama kami masih hidup, kami akan
membelanya".
Di atas
Bukit Shafa
Setelah yakin tugasnya menyampaikan wahyu Rabbnya
telah mendapatkan perlindungan dari pamannya, Abu Thalib, beliau Shallallâhu
'alaihi wasallam suatu hari berdiri tegak diatas bukit Shafa sembari berteriak:
" Ya shabaahah! (seruan untuk menarik perhatian orang agar berkumpul di waktu
pagi)". Lalu berkumpullah suku-suku Quraisy. Kemudian beliau Shallallâhu 'alaihi
wasallam mengajak mereka kepada tauhid, beriman kepada risalah yang dibawanya
dan Hari Akhir.
Imam Bukhari telah meriwayatkan satu sisi dari kisah
ini, yaitu hadits yang diriwayatkan dari Ibnu 'Abbas, dia berkata: "tatkala
turun ayat {firmanNya: 'dan berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat'
[Q.S. asy-Syu'ara' : 214] } Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam naik ke atas bukit
Shafa lalu memanggil-manggil : 'wahai Bani Fihr! Wahai Bani 'Adiy! Seruan ini
diarahkan kepada suku-suku Quraisy. Kemudian tak berapa lama, merekapun
berkumpul. Karena maha pentingnya panggilan itu, seseorang yang tidak bisa
keluar memenuhinya, mengirimkan utusan untuk melihat apa gerangan yang terjadi?.
Maka, tak terkecuali Abu Lahab dan kaum Quraisypun berkumpul juga. Kemudian
beliau Shallallâhu 'alaihi wasallam berbicara: 'bagaimana menurut pendapat
kalian kalau aku beritahukan kepada kalian bahwa ada segerombolan pasukan kuda
di lembah sana yang ingin menyerang kalian, apakah kalian akan mempercayaiku?.
Mereka menjawab: 'ya! Kami tidak pernah tahu dari dirimu selain kejujuran'.
Beliau Shallallâhu 'alaihi wasallam berkata: 'Sesungguhnya aku adalah sebagai
pemberi peringatan kepada kalian terhadap azab yang amat pedih'. Abu Lahab
menanggapi: 'celakalah engkau sepanjang hari ini! Apakah hanya untuk ini engkau
kumpulkan kami?. Maka ketika itu turunlah ayat {firmanNya: "binasalah kedua
tangan Abu Lahab…"} [Q.S. al-Masad: 1] ".
Sedangkan Imam Muslim
meriwayatkan satu sisi yang lain dari kisah tersebut, yaitu riwayat dari Abu
Hurairah radhiallaahu 'anhu, dia berkata: "Tatkala ayat ini turun {firmanNya:
'dan berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat' [Q.S. asy-Syu'ara' :
214] } Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam mendakwahi mereka baik dalam
skala umum ataupun khusus. Beliau berkata: 'wahai kaum Quraisy! Selamatkanlah
diri kalian dari api neraka. Wahai Bani Ka'b! Selamatkanlah diri kalian dari api
neraka. Wahai Fathimah binti Muhammad! Selamatkanlah dirimu dari api neraka.
Demi Allah! sesungguhnya aku tidak memiliki sesuatupun (untuk menyelamatkan
kalian) dari azab Allah selain kalian memiliki ikatan rahim yang akan aku
sambung karenanya".
Teriakan yang keras ini merupakan bentuk dari esensi
penyampaian dakwah yang optimal dimana Rasulullah telah menjelaskan kepada
orang-orang yang memiliki hubungan terdekat dengannya bahwa membenarkan risalah
yang dibawanya tersebut adalah bentuk dari efektifitas hubungan antara dirinya
dan mereka. Demikian pula, bahwa fanatisme kekerabatan yang dibudayakan oleh
orang-orang Arab akan lumer di bawah terik panasnya peringatan yang datang dari
Allah tersebut.
Menyampaikan al-Haq secara terang-terangan dan sikap
kaum Musyrikin terhadapnya
Teriakan lantang yang dipekikkan
oleh Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam tersebut masih terasa gaungnya di
seluruh penjuru Mekkah. Puncaknya saat turun firmanNya Ta'ala: "Maka
sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan
(kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik" (Q.S. al-Hijr: 94).
Lalu Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam melakukan dakwah kepada Islam
secara terang-terangan (dakwah jahriyyah) di tempat-tempat berkumpulnya kaum
musyrikin dan di club-club mereka. Beliau membacakan Kitabullah kepada mereka
dan menyampaikan ajakan yang selalu disampaikan oleh para Rasul terdahulu kepada
kaum mereka: 'wahai kaumku! Sembahlah Allah. kalian tidak memiliki Tuhan
selainNya'. Beliau juga, mulai memamerkan cara beribadahnya kepada Allah di
depan mata kepala mereka sendiri; beliau melakukan shalat di halaman ka'bah pada
siang hari secara terang-terangan dan dihadapan khalayak ramai.
Dakwah
yang beliau lakukan tersebut semakin mendapatkan sambutan sehingga banyak orang
yang masuk ke dalam Dienullah satu per-satu. Namun kemudian antara mereka (yang
sudah memeluk Islam) dan keluarga mereka yang belum memeluk Islam terjadi gap;
saling membenci, menjauhi dan berkeraskepala. Melihat hal ini, kaum Quraisy
merasa gerah dan pemandangan semacam ini amat menyakitkan mereka.
Sidang
Majlis membahas upaya menghalangi Jemaah Haji agar tidak mendengarkan Dakwah
Muhammad
Sepanjang hari-hari tersebut, ada hal lain yang membuat kaum
Quraisy gundah gulana; yaitu bahwa belum beberapa hari atau bulan saja dakwah
jahriyyah tersebut berlangsung hingga (tak terasa) mendekati musim haji. Dalam
hal ini, kaum Quraisy mengetahui bahwa delegasi Arab akan datang ke negeri
mereka. Oleh karena itu, mereka melihat perlunya merangkai satu pernyataan yang
nantinya (secara sepakat) mereka sampaikan kepada delegasi tersebut perihal
Muhammad agar dakwah yang disiarkannya tidak memiliki pengaruh yang signifikan
terhadap jiwa-jiwa mereka (delegasi Arab tersebut). Maka berkumpullah mereka di
rumah al-Walid bin al-Mughirah untuk membicarakan satu pernyataan yang tepat dan
disepakati bersama tersebut. Lalu al-Walid berkata:" Bersepakatlah mengenai
perihalnya (Muhammad) dalam satu pendapat dan janganlah berselisih sehingga
membuat sebagian kalian mendustakan pendapat sebagian yang lain dan sebagian
lagi menolak pendapat sebagian yang lain".
Mereka berkata kepadanya:
"Katakan kepada kami pendapatmu yang akan kami jadikan acuan!".
Lalu dia
berkata: "justru kalian yang harus mengemukakan pendapat kalian biar aku dengar
dulu".
Mereka berkata: "(kita katakan) dia (Muhammad) adalah seorang
dukun".
Dia menjawab: "Tidak! Demi Allah dia bukanlah seorang dukun.
Kita telah melihat bagaimana kondisi para dukun sedangkan yang dikatakannya
bukan seperti komat-kamit ataupun sajak (mantera-mantera) para
dukun".
Mereka berkata lagi: "kita katakan saja; dia seorang yang
gila".
Dia menjawab: "Tidak! Demi Allah! dia bukan seorang yang gila.
Kita telah mengetahui esensi gila dan telah mengenalnya sedangkan yang
dikatakannya bukan dalam kategori ketercekikan, kerasukan ataupun was-was
sebagaimana kondisi kegilaan tersebut".
Mereka berkata lagi: "kalau
begitu kita katakan saja; dia adalah seorang Penya'ir' ".
Dia menjawab:
"Dia bukan seorang Penya'ir. Kita telah mengenal semua bentuk sya'ir; rajaz,
hazaj, qaridh, maqbudh dan mabsuth-nya sedangkan yang dikatakannya bukanlah
sya'ir".
Mereka berkata lagi: "Kalau begitu; dia adalah Tukang
sihir".
Dia menjawab: "Dia bukanlah seorang Tukang sihir. Kita telah
melihat para tukang sihir dan jenis-jenis sihir mereka sedangkan yang
dikatakannya bukanlah jenis nafts (hembusan) ataupun 'uqad (buhul-buhul)
mereka".
Mereka kemudian berkata: "kalau begitu, apa yang harus kita
katakan?".
Dia menjawab: "Demi Allah! sesungguhnya ucapan yang
dikatakannya itu amatlah manis dan mengandung sihir (saking indahnya). Akarnya
ibarat tandan anggur dan cabangnya ibarat pohon yang rindang. Tidaklah kalian
merangkai sesuatupun sepertinya melainkan akan diketahui kebathilannya.
Sesungguhnya, pendapat yang lebih dekat mengenai dirinya adalah dengan
mengatakan bahwa dia seorang Tukang sihir yang mengarang suatu ucapan berupa
sihir yang mampu memisahkan antara seseorang dengan bapaknya, saudaranya dan
isterinya. Mereka semua menjadi terpisah lantaran hal itu".
Sebagian
riwayat menyebutkan bahwa tatkala al-Walid menolak semua pendapat yang mereka
kemukakan kepadanya; mereka berkata kepadanya: "kemukakan kepada kami pendapatmu
yang tidak ada celanya!". Lalu dia berkata kepada mereka: "beri aku kesempatan
barang sejenak untuk memikirkan hal itu!". Lantas al-Walid berfikir dan menguras
fikirannya hingga dia dapat menyampaikan kepada mereka pendapatnya tersebut
sebagaimana yang disinggung diatas.
Dan mengenai al-Walid ini, Allah
Ta'ala menurunkan enam belas ayat dari surat al-Muddatstsir, yaitu dari ayat 11
hingga ayat 26; dipertengahan ayat-ayat tersebut terdapat gambaran bagaimana dia
berfikir keras, Dia Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya dia telah memikirkan dan
menetapkan (apa yang ditetapkannya) [18]. maka celakalah dia! Bagaimanakah dia
menetapkan,[19]. kemudian celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan, [20].
kemudian dia memikirkan, [21]. sesudah itu dia bermasam muka dan merengut, [22].
kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri, [23]. lalu dia
berkata:"(al-Qur'an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari
orang-orang dahulu), [24]. ini tidak lain hanyalah perkataan manusia".
[25].
Setelah majlis menyepakati keputusan tersebut, mereka mulai
melaksanakannya; duduk-duduk di jalan-jalan yang dilalui orang hingga delegasi
Arab datang pada musim haji. Setiap ada orang yang lewat, mereka peringatkan dan
singgung kepadanya perihal Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam
.
Sedangkan yang dilakukan oleh Rasululllah Shallallâhu 'alaihi wasallam
manakala sudah datang musimnya adalah mengikuti dan membuntuti orang-orang
sampai ke rumah-rumah mereka, di pasar 'Ukazh, Majinnah dan Dzul Majaz. Beliau
mengajak mereka ke jalan Allah namun Abu Lahab yang selalu membuntuti di
belakang beliau memotong setiap ajakan beliau Shallallâhu 'alaihi wasallam
dengan berbalik mengatakan kepada mereka: "jangan kalian ta'ati dia karena
sesungguhnya dia adalah seorang Shabi' (orang yang mengikuti syari'at nabi-nabi
zaman dahulu atau orang yang menyembah bintang atau menyembah dewa-dewa) lagi
Pendusta".
Akhir yang terjadi, justru dari musim itu delegasi Arab
banyak mengetahui perihal Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam sehingga
namanya menjadi buah bibir orang di seantero negeri Arab.
Metode-Metode yang digunakan dalam
menghadapi Dakwah Islamiyyah
Manakala kaum Quraisy
menyelesaikan rituil haji, mereka segera memikirkan metode-metode yang bakal
digunakan dalam menghadapi dakwah Islamiyyah di tempat bertolaknya, lalu mereka
memilih beberapa metode berikut:
Mengejek, menghina, merendahkan,
mendustai dan menertawakan :
Target mereka adalah menghinakan kaum Muslimin
dan melemahkan semangat juang mereka. Mereka menuduh nabi Shallallâhu 'alaihi
wasallam dengan tuduhan-tuduhan yang kerdil dan celaan-celaan yang nista;
menjuluki beliau Shallallâhu 'alaihi wasallam sebagai orang gila , dalam
firmanNya: "dan mereka berkata: "Hai orang yang diturunkan kepadanya adz-Dzikr
(al-Qur'an), sesungguhnya engkau adalah orang yang benar-benar gila". (Q.S.15/
al-Hijr: 6). Mereka juga menuduh beliau sebagai tukang sihir dan pendusta, dalam
firmanNya: "Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan
(rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata :"ini adalah seorang
ahli sihir yang banyak berdusta". (Q.S. 38/Shaad: 4). Mereka mengunjungi dan
menyambut beliau dengan penuh rasa dendam dan gemuruh kemarahan, {Allah
berfirman} :" Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir
menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, tatkala mereka mendengar al-Qur'an
dan mereka berkata:"Sesungguhnya ia (Muhammad) benar-benar orang yang gila".
(QS. 68/al-Qalam:51).
Bila beliau Shallallâhu 'alaihi wasallam sedang
duduk-duduk dan disekitarnya shabat-shahabat beliau yang terdiri dari al-
Mustadh'afun (kaum-kaum lemah), mereka mengejek sembari berkata: "(semacam)
mereka itulah teman-teman duduk (ngobrol) nya, {Allah berfirman}: "orang-orang
semacam itukah diantara kita yang diberi anugerah oleh Allah kepada mereka?".
(Q.S. 6/al-An'am: 53), lalu Allah membantah ucapan mereka tersebut: "Tidakkah
Allah mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepadaNya)?". (Q.S.
6/al-An'am: 53). Kondisi mereka sebenarnya persis sebagaimana yang dikisahkan
oleh Allah kepada kita, dalam firmanNya: "Sesungguhnya orang-orang yang
berdusta, adalah mereka yang dahulunya (di dunia) mentertawakan orang-orang yang
beriman (29). Dan apabila orangp-orang beriman lalu di hadapan mereka, mereka
saling mengedipkan matanya (30). Dan apabila ornag-orang berdosa itu kembali
kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira (31). Dan apabila mereka melihat
orang-orang mukmin, mereka mengatakan: 'sesungguhnya mereka itu benar-benar
orang-orang yang sesat (32). Padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim
untuk penjaga bagi orang-orang mukmin (33)". [Q.S. 83/al-Muththaffifiin:
29-33].
Memperburuk citra ajaran-ajaran yang dibawanya, menyebarkan
syubhat-syubhat, mempublikasikan dakwaan-dakwaan dusta, menyiarkan
statement-statement yang keliru seputar ajaran-ajaran, diri dan pribadi beliau
serta membesar-besarkan tentang hal itu:
Tindakan tersebut mereka
maksudkan untuk tidak memberi kesempatan kepada orang-orang awam merenungi
dakwahnya: Mereka selalu berkata tentang al-Qur'an: {Allah berfirman}:
"dongengan-dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan, maka
dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang" (Q.S.25/al-Furqan:
5). {Dan firmanNya}: " al-Qur'an ini tidak lain hanyalah kebohongan yang
diada-adakan oleh Muhammad dan dia dibantu oleh kaum yang lain…". (Q.S.
25/al-Furqan: 4). Mereka sering berkata: {dalam firmanNya}: "sesungguhnya
al-Qur'an itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)". (Q.S.
16/an-Nahl: 103). Mereka juga sering mengatakan tentang Rasululullah : {dalam
firmanNya}: "mengapa Rasul ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar?".
(Q.S.25/al-Furqan: 7). Di dalam al-Qur'an terdapat banyak contoh bantahan
terhadap statement-statement mereka setelah menukilnya ataupun tanpa
menukilnya.
Menghalangi orang-orang agar tidak dapat mendengarkan
al-Qur'an dan mengimbanginya dengan dongengan-dongengan orang-orang dahulu serta
membuat sibuk mereka dengan hal itu:
Mereka menyebutkan bahwa an-Nadhar
bin al-Harits pergi ke Hirah. Disana dia belajar cerita-cerita tentang raja-raja
Persia, cerita-cerita tentang Rustum dan Asvandiar. Jika Rasulullah Shallallâhu
'alaihi wasallam sedang duduk-duduk di suatu majlis dalam rangka berwasiat
kepada Allah dan mengingatkan manusia akan pembalasan-Nya, maka seusai beliau
Shallallâhu 'alaihi wasallam melakukan hal itu; an-Nadhar berbicara kepada
orang-orang sembari berkata: "Demi Allah! ucapan Muhammad tersebut tidaklah
lebih baik dari ucapanku ini". Kemudian dia mengisahkan kepada mereka tentang
cerita raja-raja Persia, Rustum dan Asvandiar. Setelah itu, dia berceloteh:
"Kalau begitu, bagaimana bisa ucapan Muhammad lebih bagus dari ucapanku
ini?".
Dalam hadits yang diriwayatkan dari Ibnu 'Abbas disebutkan bahwa
an-Nadhar membeli seorang budak perempuan. Maka, setiap dia mendengarkan ada
seseorang yang tertarik terhadap Islam, dia segera menggandengnya menuju budak
perempuannya tersebut, lalu berkata (kepada budak perempuannya): "beri dia
makan, minum dan penuhi kebutuhannya. Ini adalah lebih baik dari apa yang diajak
oleh Muhammad kepadamu". Maka turunlah ayat mengenai dirinya, Allah berfirman:
"Dan diantara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak
berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah…". (Q.S.31/Luqman: 6).
Sirah Nabawiyah menjelaskan kepada kita secara rinci tahapan - tahapan pertumbuhan islam dari mulai muncul nya sampai kepada perkembangan islam yang dibawakan oleh nabi Agung junjungan kita semua Muhammad SAW...allahuma sholiwassalimallah syaidina Muhammad.
SIRAH NABAWIYAH ( 09 A )
Langganan:
Komentar (Atom)
Belajar Rumus Ms. Exel Pak Tara
Assallamualaikum..... Selamat pagi anak- anak pada kesempatan ini mari kita belajar lebih dalam mengenai rumus rumus dalam microsoft exel,u...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar