Pengertian Sirah Nabawiyah
السيرة لغة تعني السنة والطريقة والحالة التي يكون عليها الإنسان وغيره، يقال فلان له سيرة حسنة، يقول تعالى: {قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَى } طه21
Sirah (سيرة) secara bahasa berarti: Jalan, keadaan atau tingkah laku yang dinisbatkan kepada manusia atau selainnya. Dikatakan, seseorang memiliki keadaan yang baik. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
قَالَ خُذْهَا وَلاَ تَخَفْ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَى
“Allah berfirman: “Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula,” (Q.S. 20 : 21)
والسيرة النبوية تعني مجموع ما ورد لنا من وقائع حياة النبي صلى الله عليه وسلم، وصفاته الخُلقية والخَلقية مضافا إليها غزواته وسراياه
Sirah Nabawiyah: kumpulan hal-hal yang sampai kepada kita berupa; peristiwa-peristiwa atau kejadian-kejadian dalam kehidupan Nabi ﷺ, budi pekerti Nabi ﷺ, sifat fisik Nabi ﷺ serta hal–hal yang berkaitan dengan peperangan dan ekspedisi Nabi ﷺ. (Pengenalan Terhadap Islam, Pusat Pengenalan Islam Qatar).
Jadi bahasan Sirah Nabawiyah mencakup:
- Seluruh peristiwa dalam kehidupan Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam; mencakup Pribadi Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam sebagai seorang ayah, suami, mertua, menantu, pemimpin, dst.
- Akhlaq Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam;
Poin ini adalah salah satu pembahasan terpenting sirah. Sebagaimana diketahui, bahwa bahasan akhlaq akan menyentuh seluruh sisi kehidupan manusia, sedangkan tidaklah Beliau ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam diutus melainkan untuk menyempurnakan akhlaq. Terlebih lagi, Sayidah ‘Aisyah radhiyaLlahu ‘anha telah bersaksi bahwa akhlaq Beliau ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam adalah Al-Quran. - Sifat fisik Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam;
Kesempurnaan fisik Beliau ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam adalah salah satu tanda kenabian Beliau ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam, di mana tidaklah seorang Nabi diutus melainkan dengan bentuk fisik yang baik. Telah banyak tulisan ulama yang khusus membicarakan kesempurnaan fisik Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana terdapat dalam Asy-Syamail (Imam Tirmidzi), Al-Wafa (Ibnul Jauzy), dsb. - Peperangan (Ghazwah) Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam; yang diikuti langsung oleh Nabi Saw.
Dari peperangan yang ada, kita dapat melihat teladan terbaik dari Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam padanya, serta kepiawaian Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam baik sebagai pemimpin maupun panglima perang. Salah satu yang dapat kita petik adalah tawazun nya Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam, di mana ada saat berlemah lembut dan ada pula saat tegas dalam menegakkan Agama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Terdapat pula ulama yang fokus membahas peperangan di zaman Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam, seperti Al-Waqidi dengan kitabnya yang terkenal Al-Maghazi. - Ekspedisi (Sariyah) Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam; yang tidak diikuti langsung oleh Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam, namun Beliau ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam. mengirim sahabat radhiyaLlahu ‘anhu untuk memimpinnya (contoh: Perang Mu’tah). Dari ekspedisi-ekspedisi ini setidaknya kita dapat mengetahui strategi-strategi Beliau ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam dalam menghadapi musuh serta kepiawaian Beliau ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam memilih pribadi yang tepat untuk tugas tertentu. Pemahaman lain yang dapat diambil adalah bahwa strategi Beliau shallaLlahu ‘alaihi wa sallam saat menahan diri dalam konteks perdamaian pun masuk ke dalam pembahasan Sirah.
WaLlahu A’lam bish-shawab.
Sumber-Sumber Sirah Nabawiyah
Dalam bukunya, Sirah Nabawiyah, Dr. Musthafa as-Siba’i menyebutkan sumber-sumber rujukan Sirah Nabawiyah sebagai berikut:
1. Al-Quran
Al-Quran adalah sumber pokok sandaran dari seluruh aspek pada Sirah Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Beberapa ayat yang menjadi dasar Sirah Nabawiyah antara lain:
أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَى
“Bukankah Dia dapati engkau dalam keadaan yatim lalu engkau dipelihara.”(Q.S.93:6)
وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Q.S.69:4)
Secara garis besar kisah-kisah Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam yang dituturkan dalam Al-Quran melingkupi antara lain:
- Perkembangan kehidupan Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam.
- Akhlaq Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam.
- Kesulitan dalam menjalankan dakwah seperti tuduhan-tuduhan yang Beliau ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam terima.
- Hijrah Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam.
- Sebagian peperangan yang diikuti Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam, seperti Badar, Uhud, Khandaq, Fathu Makkah, Hunain, dll.
- Mu’jizat Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam seperti Isra Mi’raj.
Syaikh Al-Buthy juga menuturkan dalam Fiqhus Sirah nya bahwa secara umum, saat Al-Quran menceritakan Sirah Nabawiyah, akan memakai satu dari dua uslub berikut:
- Mengemukakan sebagian kejadian dari kehidupan Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam, yang sebagiannya sudah disebutkan sebelumnya di atas, termasuk juga pernikahan Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam dan Zainab binti Jahsy radhiyaLlahu ‘anha.
- Mengomentari kasus-kasus dan peristiwa-peristiwa yang terjadi untuk menjawab masalah-masalah yang timbul, atau mengungkap masalah yang belum jelas, atau menarik perhatian kaum Muslimin kepada pelajaran yang terkandung padanya.
Baik Syaikh As-Siba’i dan Syaikh Al-Buthy, keduanya sepakat bahwa pembicaraan Al-Quran terkait dengan Sirah Nabawiyah semuanya dalam bentuk global dan tidak mendetail. Sebagaimana Perang Badar misalnya, Al-Quran tidak menjelaskan berapa jumlah Sahabat yang syahid ataupun kaum kafir yang mati terbunuh.
Demikianlah Uslub Al-Quran dalam menjelaskan peristiwa-peristiwa dalam Sirah Nabawiyah dan juga peristiwa-peristiwa kaum terdahulu yang lebih memfokuskan kepada nasihat dan pelajaran yang dapat ditarik dari tiap peristiwa tersebut. Karenanya, dalam membahas Sirah Nabawiyah, kita masih memerlukan sumber-sumber lainnya sebagaimana tertera pada poin selanjutnya.
2. Sunnah Nabi Saw yang Shahih
Yang dimaksudkan di sini adalah hadits Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam yang shahih. Salah satu contoh dapat dilihat pada hadits berikut ini:
عن أبي قتادة: أن رجلاً سأل رسول الله صلى الله عليه وسلم عن صوم يوم الاثنين. فقال: «ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ، وَيَوْمٌ بُعِثْتُ – أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ -».رواه مسلم
Dari Abu Qatadah: Bahwasanya seorang laki-laki bertanya kepada RasuluLlah ﷺ tentang puasa Hari Senin. RasuluLlah ﷺ bersabda: “Hari itu adalah hari aku dilahirkan dan diturunkannya kitab kepadaku.” (HR. Muslim)
Syaikh As-Siba’i menyebutkan bahwa sumber ini memuat bagian terbesar kehidupan Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Alasan yang menambah ketenangan dan kepercayaan padanya adalah adanya sanad yang jelas bersambung sampai kepada para Sahabat radhiyaLlahu ‘anhum, yang berinteraksi langsung dengan Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Melalui sumber ini, kita dapat melihat gambaran yang komprehensif, walau terkadang tidak utuh, tentang Sirah Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam.
Syaikh Al-Buthy menyebutkan, bahwa sumber kedua ini jauh lebih luas dan rinci, namun belum tersusun secara urut dan sistematis dalam memberikan gambaran sejarah kehidupan Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam, terutama jika kita melihat dari sisi urutan waktu. Hal ini mengingat Kitab hadits kebanyakan ditulis berdasarkan bab fiqh atau satuan pembahasan yang terkait dengan Syariat Islam.
3. Syair-syair Arab yang semasa dengan Jaman Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam
Saat berusaha menghadang dakwah Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam, salah satu ‘senjata’ yang digunakan oleh kaum musyrik adalah melalui syair sebagai media propaganda pada masa itu. Penghinaan dan hujatan tersebut memaksa para Sahabat ra yang memiliki kemampuan menggubah syair – seperti Hasan bin Tsabit ra, ‘AbduLlah bin Rawahah ra, dsb – untuk membalas pula dengan syair mereka.
Syair-syair ini tertera pada buku-buku sastra klasik dan sejarah. Darinya kita dapat mengambil jejak rekam sejarah yang menjadi dasar untuk menggali beragam fakta di seputar kehidupan Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam.
Pelajaran lain yang dapat kita petik adalah bagaimana kekuatan dari sebuah hasil pemikiran yang memiliki efek jauh lebih dahsyat dari pedang paling tajam ataupun anak panah yang dilontarkan. Efek dari sebuah pedang atau panah hanya bisa dirasakan oleh orang tertentu pada masa tertentu, sementara efek pemikiran dan hasil turunannya dapat tetap memberikan pengaruh besar hingga berbad-abad lamanya setelah pertama kali ia dilontarkan.
4. Kitab-kitab Sirah
Syaikh Al-Buthy menyebutkan bahwa kajian sirah diambil dari riwayat-riwayat pada masa Sahabat radhiyaLlahu ‘anhum dan disampaikan secara turun-temurun tanpa dihimpun atau disusun dalam sebuah kitab, walau sudah ada yang menaruh perhatian khusus terhadap Sirah Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam dan rincian-rinciannya.
Baru pada masa generas tabi’in, Sirah Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam mulai disusun dengan mengumpulkan data yang terdapat pada lembaran-lembaran kertas. Kemudian muncul generasi penyusun Sirah berikutnya dengan tokoh-tokohnya seperti Muhammad bin Ishaq/Ibnu Ishaq (152H), lalu disusul generasi setelahnya seperti Al-Waqidi (203H), dll.
Pada masa setelahnya, juga terkenal beberapa nama, di antaranya Ibnu Hisyam dengan kitabnya yang terkenal, Sirah Nabawiyah, yang meriwayatkan Sirah Nabi Saw yang berasal dari Ibnu Ishaq. Disebutkan bahwa Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam adalah hasil ringkasan dari riwayat-riwayat yang dimiliki oleh Ibnu Ishaq yang bisa sampai pada jaman kita sekarang ini.
Syaikh As-Siba’i menyebutkan bahwa pada perkembangannya penulisan Sirah Nabawiyah hanya terfokus pada salah satu aspek tertentu saja, seperti terlihat pada Asy-Syamail karya Imam Tirmidzi, Asy-Syifaa karya Qadhi Iyadh, Zaadul Ma’ad karya Ibnul Qayyim al-Jauziyah, dsb.
Begitupula pada zaman kita sekarang ini, Sirah Nabawiyah tidak berhenti ditulis oleh para Ulama kontemporer, baik dengan model penulisan sejarah murni ataupun dengan model penulisan yang menekankan aspek tertentu. Beberapa di antara Ulama tersebut adalah seperti Dr. Musthafa As-Siba’i, Dr. Muhammad Al-Ghazali, Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy, Sayyid Abul Hasan ‘Ali An-Nadwi, K.H. Munawar Chalil, Dr. Sayyid Muhammad Al-Maliki, Syaikh ShafiyurRahman Al-Mubarakfury, Dr. Munir Al-Ghadban, Dr. Sami’ bin ‘AbduLlah Al-Maghluts, dll.
Perlu dicatat, bahwa memilah dan memilih rujukan Sirah Nabawiyah adalah issue yang sangat penting. Sangat dianjurkan untuk mengambil referensi dari buku-buku yang ditulis oleh para ulama yang mu’tabar (terpercaya). Hal ini agar kita tidak keliru dalam memahami sisi-sisi kehidupan Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam serta tidak salah dalam mengambil kesimpulan terhadap peristiwa-peristiwa yang dialami oleh Beliau ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Syaikh Al-Buthy pun telah mengingatkan pentingnya issue ini dalam Fiqhus-Sirah, terutama saat beliau membahas Peristiwa Isra’ dan Mi’raj.
Keutamaan Mempelajari Sirah Nabawiyah
Para Sahabat ra sangat memperhatikan Sirah Nabawiyah. Hal ini terlihat dari kesaksian anak-anak mereka ra yang mendapat pengajaran dari ayah-ayah mereka radhiyaLlahu ‘anhum, sebagaimana dituturkan oleh ‘Ali bin Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib radhiyaLlahu ‘anhum sbb:
“Kami diajar tentang sejarah peperangan Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallam sebagaimana kami diajarkan tentang surah-surah dalam al-Qur’an.”
Begitu banyak keutamaan yang didapat dari mempelajari Sirah Nabawiyah. Beberapa di antaranya sebagaimana disimpulkan oleh para ulama adalah sbb:
- Memahami pribadi kenabian Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam melalui celah-celah kehidupan dan kondisi-kondisi yang pernah dihadapinya, untuk menegaskan bahwa Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam bukan hanya seorang yang terkenal genial di antara kaumnya, tetapi sebelum itu beliau adalah seorang Rasul yang didukung oleh Allah dengan wahyu dan taufiq dari-Nya. (Fiqhus Sirah, Al-Buthy)
Kecerdasan adalah salah satu sifat dari seorang Nabi. Kita pun meyakini kejeniusan RasuluLlah ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam dan kehandalan Beliau ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam dalam menyelesaikan problem yang dihadapi. Namun lebih dari itu, kita melihat Beliau ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam dengan sudut pandang iman. Salah satu tujuan utama kita mempelajari sirah adalah agar semakin tertanam / meningkatnya keimanan terhadap Beliau ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam sebagai seorang Nabi dan Rasul. Inilah yang luput dari para orientalis. Banyak sudah orientalis mengakui kehebatan Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam sebagai seorang pemimpin, ataupun sisi-sisi lain dari keunggulan Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan tak kurang seorang Michael Hart menempatkan Beliau ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam pada peringkat pertama orang paling berpengaruh di dunia. Namun, sayang, hanya sebatas itulah kemampuan mereka melihat RasuluLlah ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Hal terpenting dari Sejarah Hidup Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam justru luput dari pandangan mereka, yaitu bahwa Beliau ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang Rasul Allah Subhnahu wa Ta’ala.
- Syaikh Al-Buthy menyebutkan pula urgensi lain, yaitu: Agar manusia
mendapatkan gambaran al-Matsal al-A’la menyangkut seluruh aspek
kehidupan yang utama untuk dijadikan undang-undang dan pedoman
kehidupannya. Tidak diragukan lagi betapapun manusia mencari matsal a’la
(tipe ideal) mengenai salah satu aspek kehidupan, dia pasti akan
mendapatkan di dalam kehidupan Rasulullah saw secara jelas dan sempurna.
Karena itu, Allah menjadikannya qudwah bagi seluruh manusia. Firman
Allah:Report this ad
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ …
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) RasuluLlah itu suri teladan yang baik bagimu…” (Q.S. 33:21)
Disebutkan bahwa ayat ini berkaitan dengan Perang Khandaq. Ayat sebelumnya menceritakan bagaimana orang-orang munafik bersiap melarikan diri jika Makkah kembali menyerang. Kemudian di ayat ini beralih ditujukan kepada kaum mukmin, menurut sebagian pendapat, memuji keteguhan mereka mengikuti keteladanan Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam yang teguh bertahan. Keteladanan lain dapat dilihat pada kesulitan-kesulitan yang ada pada perang tsb, di mana banyak Sahabat radhiyaLlahu ‘anhum merasa kelaparan karena lama tidak mendapat makanan yang mencukupi hingga mereka mengganjal perut mereka ra dengan batu. Namun keteladanan Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam melebihi mereka dengan mengganjal perut Beliau ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam dengan 2 batu (Riwayat Tirmidzi).
Ayat ini diawali لَقَدْ berfungsi untuk menekankan hal yang dibicarakan. Kemudian diikuti isim كَانَ yang menunjukkan adanya sesuatu yang terus menerus, yang bermakna bahwa uswah hasanah pada diri RasuluLlah ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam tetap akan berlangsung terus hingga yaumil qiyamah. Waktu tidak bisa dijadikan alasan sehingga Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam tidak lagi bisa menjadi teladan. Namun sebaliknya, justru keberkahan waktu tidak akan wujud tanpa menjadikan Nabi Saw sebagai uswah hasanah.
Kata فِي (di dalam) menunjukkan bahwa syarat seseorang dapat menjadikan RasuluLlah ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam sebagai uswah hasanah hanyalah dengan ‘menyatukan’ jiwa dengan RasuluLlah ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Kita harus mampu menapaki tiap langkah dan jejak Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam, sehingga tidak mungkin seseorang bisa menjadikan Beliau ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam sebagai uswah hasanah tanpa mempelajari Sirah Beliau ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Jika demikian berlaku pada kaum muslimin kebanyakan, terlebih lagi bagi seorang dai.
Ayat ini juga menunjukkan bahwa RasuluLlah ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam adalah sebaik-baik pribadi, sehingga layak untuk menjadi uswah hasanah hingga yaumil qiyamah nanti. Bahkan kata أُسْوَةٌ, menurut sebagian pendapat, menunjukkan bahwa Pribadi Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam secara totalitas adalah keteladanan itu sendiri. Sudah selayaknyalah Beliau ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam menjadi matsal al-a’la bagi seluruh sisi kehidupan. Allahumma Shalli ‘alaa Sayyidina Muhammad wa ‘alaa aali Sayyidina Muhammad.
- Agar manusia mendapatkan, dalam mengkaji Sirah Rasulullah ini sesuatu yang dapat membawanya untuk memahami kitab Allah dan semangat tujuannya. Sebab, banyak ayat-ayat al-Quran yang baru bisa ditafsirkan dan dijelaskan maksudnya melalui peristiwa-peristiwa yang pernah dihadapi Rasulullah saw dan disikapinya (Syaikh Al-Buthy, Fiqhus-Sirah).
Berkenaan dengan ini, banyak sekali terdapat contoh, seperti Perang Badar dan Surat Al-Anfal misalnya atau perang Bani Nadhir dan Surat Al-Hasyr. Dengan mengetahui kisah yang ada pada peristiwa-peristiwa tadi, mempermudah seseorang untuk memahami surat-surat tersebut. Bahkan kisah perang Bani Nadhir yang melatarbelakangi surat Al-Hasyr tidak dapat berdiri sendiri tanpa menghubungkannya dengan peristiwa sebelumnya, yaitu Tragedi Bi’r Ma’unah. Di sinilah terlihat peran penting sirah dalam memahami Kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagian di antara contoh di atas akan terkait dengan topik-topik setelah pembahasan ini, Insya Allah.
- Melalui kajian Sirah Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam ini seorang Muslim dapat mengumpulkan sekian banyak tsaqofah dan pengetahuan Islam yang benar, baik menyangkut aqidah, hukum ataupun akhlak. Sebab tak diragukan lagi bahwa kehidupan Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam merupakan gambaran yang konkrit dari sejumlah prinsip dan hukum Islam (Syaikh Al-Buthy, Fiqhus Sirah).
- Agar setiap pembina dan da’i Islam memiliki contoh hidup menyangkut cara-cara pembinaan dan dakwah. Adalah Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam seorang da’i pemberi nasehat dan pembina yang baik, yang tidak segan-segan mencari cara-cara pembinaan dan pendidikan terbaik selama beberapa periode dakwahnya (Syaikh Al-Buthy, Fiqhus Sirah).
Selama kurang lebih 23 tahun dakwah Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam sarat dengan pelajaran bagi da’i bagaimana berdakwah dengan cara terbaik, sejak tahapan sirriyah, jahriyah dan seterusnya hingga masuk ke dalam fase di mana Islam telah memiliki kekuatan di Madinah. Dari sisi obyek dakwah pun, bermacam lapisan karakter manusia dan masyarakat Beliau ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam hadapi. Kita dapat melihat bagaimana Beliau ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam memiliki murid (sahabat) dari kalangan orang tua, dewasa, remaja hingga anak-anak. Begitupula dari sisi status sosial, pun murid Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam beraneka ragam dari saudagar kaya hingga hamba sahaya. Dan semuanya merasakan kenyamanan membersamai Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam dan dakwah Beliau ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Dari sudut pandang ini saja, kita dapat mengambil banyak sekali hikmah dan teladan dari dakwah Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam, yang perlu untuk dipelajari oleh seorang yang aktif berdakwah di Jalan Allah Subhnahu wa Ta’ala.
- Mengetahui kemuliaan dan kebesaran RasuluLlah ﷺ.
Kebesaran dan kemuliaan Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam dapat semakin kita rasakan dengan mempelajari Sirah Beliau ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Beberapa contoh di antaranya adalah sbb:
- Tidak hanya seluruh manusia, apapun latar belakang suku dan bangsanya, bahkan jin pun diperintah pula beriman kepada Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam.
- Dilebihkannya Beliau ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam dari nabi dan rasul lain pada umumnya.
- Sudah dipersiapkannya kemuliaan Beliau ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam sejak awal kehidupan Beliau ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam, bahkan jauh sebelumnya. Terlihat dari latar belakang keluarga yang darinya Beliau ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam berasal; tidaklah Beliau ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam terlahir melainkan dengan pernikahan dari generasi ke generasi; dilanjutkan penjagaan demi penjagaan setelahnya yang akan dibicarakan pada tempatnya, Insya Allah.
- Meningkatkan kecintaan kita kepada RasuluLlah ﷺ.
Tak kenal maka tak sayang. Demikianlah tabiat dasar manusia, yang akan merasa memiliki kedekatan dengan sesuatu yang dikenalnya, dan cenderung menjauh terhadap sesuatu yang dirasa asing bagi dirinya. Begitu juga terhadap Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Dengan semakin mengenal Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam, diharapkan cinta pada diri kita terhadap Beliau ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam pun semakin meningkat. Terlebih, Pribadi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam yang kita berusaha mengenalnya lebih dekat, memiliki karakter yang mengagumkan tanpa cela dan kekurangan.
Pada hari ini kita tidak lagi bisa bertemu dengan Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Namun bukan berarti kita tidak bisa mengenal secara dalam dan mencintai Beliau ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Banyak orang tidak pernah bertemu dengan artis kenamaan Dunia Barat, namun mereka begitu mengenalnya dan begitu mencintainya, bahkan ketika artis itu sudah tiada. Sudah selayaknya Umat Islam jauh lebih mengenal dan mencintai Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam melebihi kecintaan kaum di atas kepada artis pujaannya, mengingat Beliau ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam lah yang mengeluarkan seluruh manusia dari kegelapan dan menuntun kepada cahaya yang terang, di samping kemuliaan akhlak yang sudah disebut sebelumnya. Untuk mendapatkan cinta tersebut, maka mempelajari Sirah Nabawiyah adalah salah satu jalan yang harus ditempuh.
Adapun manfaat cinta kepada Beliau ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam, dapat kita lihat salah satunya sbb:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ: أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَتَى السَّاعَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «مَا أَعْدَدْتَ لَهَا» قَالَ: مَا أَعْدَدْتُ لَهَا مِنْ كَثِيرِ صَلاَةٍ وَلاَ صَوْمٍ وَلاَ صَدَقَةٍ، وَلَكِنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ، قَالَ: «أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ». صحيح البخاري
Dari Anas bin Malik, beliau mengatakan bahwa seseorang bertanya pada Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam, “Kapan terjadi hari kiamat, wahai Rasulullah?” Beliau ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?” Orang tersebut menjawab, “Aku tidaklah mempersiapkan untuk menghadapi hari tersebut dengan banyak shalat, banyak puasa dan banyak sedekah. Tetapi aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.” “(Kalau begitu) engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Demikian keutamaan cinta kepada Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Namun perlu diingat, bahwa hal ini tidak menghapuskan kewajiban pelaksanaan ibadah-ibadah yang sudah ditentukan oleh oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul Nya ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi dalam Syarah Muslim.
Yang juga perlu menjadi perhatian yang tak kalah penting adalah, bahwa selayaknya kita tidak lalai mengajarkan Sirah Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam kepada anak-anak kita, dan generasi penerus agar mereka dapat lebih mengenal dan mencintai Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam.
- Memberi kenikmatan ruhiyah bagi seorang mukmin.
Inilah salah satu keberkahan dalam membaca atau mempelajari Sirah Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini telah dirasakan oleh banyak pihak. Bahkan tidak jarang bacaan sirah dapat berpengaruh sedemikian kuat terhadap jiwa seseorang, hingga bisa membuat orang dengan watak keras sekalipun mampu menitikkan air mata.
- Merasakan perjuangan Beliau ﷺsehingga menambah semangat berjuang dan mengembalikan ruh jihad serta berdakwah di Jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dengan membaca tentang pengorbanan Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam dalam berdakwah dan berjihad, diharapkan mampu memotivasi semangat kita mengikuti jerih payah Beliau ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam dalam berdakwah dan berjihad di Jalan Nya. Pembacaan sirah dalam sejarah juga telah membuktikan efektifnya membangkitkan semangat pejuang di Jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
- Mengetahui jalan kemuliaan; sebab kemenangan dan kekalahan.
Umat Islam saat ini sedang dalam kondisi terpuruk, sedang berusaha menapaki jalan untuk kembali mendapatkan kejayaannya yang pernah dimilikinya. Sirah kembali berperang penting dalam keadaan ini, karena sarat dengan pelajaran-pelajaran terkait. Perang Uhud merupakan salah satu contoh berharga bagi generasi saat ini agar peristiwa serupa tidak terulang kembali.
- Memahami manhaj perubahan individu & kolektif.
Salah satu dari keutamaan RasuluLlah ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam adalah lulusan pendidikan Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam yaitu para Sahabat radhiyaLlahu ‘anhum, yang memiliki sifat-sifat mengagumkan. Seringkali saat membaca kisah kehidupan mereka radhiyaLlahu ‘anhum, seakan-akan kita sedang membaca sebuah dongeng karena demikian menakjubkannya kisah-kisah tersebut. Bahkan keadaan mereka ra telah disebutkan dalam Taurat dan Injil sebelumnya. Padahal sebelumnya, kebanyakan mereka hidup dalam kejahiliyahan sebelum Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam diutus. Dengan mempelajari Sirah Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam, diharapkan kita mampu mengambil pelajaran, terkait metode yang digunakan Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam sehingga mampu melakukan perubahan besar sedemikian rupa serta mampu menghasilkan pribadi-pribadi dan masyarakat yang begitu mengagumkan.
- Selain istimewa karena ke-universal-annya, tidak ada nabi lain yang memiliki sejarah selengkap RasuluLlah ﷺ.
Inilah salah satu keistimewaan Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Walau mungkin kemudian akan ada yang mengatakan, bahwa zaman sebelum Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam, pencatatan tidak sehebat di masa Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini bisa dijawab dengan logika mudah pada kasus kontemporer sekalipun. Ambilah contoh, George Washington misalnya. Adakah dari pelajar sejarah yang hafal siapa (nama depan) ayah dan ibu George Washington ataupun kakek dan pamannya? Bahkan kita ambil orang yang masih hidup sekalipun seperti Bill Clinton atau Jean-Marc Ayrault misalnya. Mungkin terdengar/terlihat seperti lelucon, namun demikianlah kenyataannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala Tidak Berkenan Menjadikan pelajar sejarah bahkan ahlinya mau berlelah-lelah menghafal nama-nama tsb, berbeda dengan RasuluLlah ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam, di mana ada saja orang yang diberikan kemauan dan kemampuan oleh Nya untuk menghafal nasab Beliau ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam, bahkan hingga 20 ke atas.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar